Kisah Teladan 4 Wanita Mulia; Siti Fatimah Az Zahra, Siti Khadijah, Asiyah dan Maryam

Posting Komentar

Wanita yang ingin berhijrah dapat memulai hijrahnya dengan menyimak kisah teladan wanita-wanita mulia di masa lalu seperti Kisah Fatimah Az Zahra. Dengan mengenal kisah menyentuh wanita hebat di masa lalu, hati kita akan tersentuh dan tergerak untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan hati kita akan termotivasi untuk setidaknya memiliki sebagian sifat-sifat indah wanita mulia di masa lalu. 

Karena saat itu, pasti hati kita akan cemburu bahwa betapa indahnya wanita mulia di masa lalu. Kemudian, kita akan tergerak dengan sendirinya untuk melalui hal yang sama seperti kisah wanita teladan seperti mereka. kita akan berani untuk mengambil jalan yang sulit, dan kita akan malu kalau kalah. Karena pasti kita sadar, semua cobaan yang kita temui tak pernah sebanding sedikit pun dibanding satu saja cobaan dari mereka.

Bila ada hal-hal yang harus dicemburui dari seorang wanita, bukanlah tren zaman sekarang dimana mereka mempunyai banyak follower dan menyediakan berbagai foto selfi kepada followernya, entah itu bercadar atau tidak. Karena ketahuilah bahwa Kisah Siti Fatimah az Zahra telah berhasil memikat banyak hati wanita, tanpa sebuah foto dan tanpa kecanggihan informasi, namun kisahnya membumi ke seluruh negeri. Ingin menyimak lebih lanjut kisah heroik Fatimah az Zahra bersama Sayyidina Ali? 

Maka silahkan memulainya satu per satu. Di bawah kami menulis 4 kisah wanita mulia di masa lalu. Kalian harus menyiapkan waktu yang panjang untuk menyimak kisah ini yah. Dan siapkan pula hati yang kuat dan tegar, agar tidak menangis. Yuk simak. 


1. Kisah Asiyah binti muzahim

Asiyah binti muzahim merupakan salah seorang wanita yang berasal dari bani Israil. Beliau adalah istri Fir’aun,  yaitu seorang lelaki yang durhaka kepada Allah swt. Beliau bertahan dari apapun cobaan yang didapatkannya dari suaminya itu. Beliau adalah seorang wanita yang menyimpan iman di dalam hatinya. Iman yang takkan pernah goyah. Iman yang dijaga sepenuh hatinya walau harus dihukumi dengan hukuman yang menyakitkan. Asiyah adalah seorang wanita yang percaya, bahwa Allah selalu ada disisinya, meski ia tengah sendiri saat itu.

Kekuasaan Fir’aun memang teramat besar, namun ternyata kalah besar dengan keteguhan Asiyah. Hukuman dari Fir’aun teramat sakit dan hebat, namun tak membuatnya takut demi mempertahankan iman di dalam hatinya. Asiyah hanya seorang wanita, sama seperti wanita lainnya, memiliki tubuh yang lemah, sifat yang lemah pula, namun apa yang membedakannya sehingga ia menjadi seseorang yang mulia, yaitu bahwa Asiyah seseorang yang kuat, tidak memiliki ketakutan atas cobaan dan kepedihan yang akan menimpanya seketika itu.

Semasa menjadi istri Fir’aun, Asiyah hidup dalam kemewahan yang luar biasa. Suatu hari, ketika bersama dengan pembantu-pembantunya, ia menghampiri sungai dan melihat kepada satu kotak.Ia mejumpai seorang bayi mungil nan imut bernama Musa ibni Imran. Kala itu, Fir’aun ingin membunuh semua anak yang lahir termasuk musa, namun ia berkata, qurratu ‘aynin li wa lak, ‘asa anyanfa’ana

Namun karna kasih dan saying yang dimiliki Asiyah, ia tidak tega dan malah menjadikan anak itu sebagai seorang anak yang ingin dirawat dan dilindungi olehnya. Betapapun kekejaman Fir’aun kala itu teramat sakit, ternyata tidak sesekali pun memiliki ketakutan atasnya.

Pada akhirnya, Asiyah beriman kepada Nabi Musa as. Dia memperjuangkan keimanannya. Menangis mengadu kepada Tuhan tentang harapannya. Mendekatkan diri kepada Allah dengan doa yang indah dari lubuk hatinya terdalam.

“Wahai tuhanku! Bangunkan untuk aku didekat-Mu sebuah rumah di dalam surga, dan selamatkan aku dari kekejaman Fir’aun serta orang yang dhalim.

Ketika Fir’aun mengetahui istrinya beriman, maka Fir’aun mengikatnya dan menjatuhkan hukuman yang paling mengerikan untuknya dengan menjadikan batu besar dijatuhkan ke atasnya.

Namun, Asiyah tidak gentar sama sekali. Asiyah tidak peduli, kalau kenikmatan keduniaannya hilang secepat itu, hanya semata ingin mempertahankan iman yang telah di anugerahi oleh  Allah swt di dalam hatinya. Baginya, iman adalah segalanya yang tidak harus dijual dengan kenikmatan dunia.

Walau ia telah hidup dalam kemewahan, namun demi iman ia berani meninggalkannya begitu saja.

Meski ia akan segera mati, tapi tidaklah ketakutan itu menghilangkan keyakinan iman di dalam dirinya.

Siapa yang mampu seperti ini, dikala kita harus menyerahkan nyama demi iman yang dititipkan oleh Tuhan?

Adakah sesakit kepedihan yang kita rasakan, bahkan kita masih percaya atas ketentuan dari takdir Tuhan?

Ternyata, kalau kita mau bertahan, segala sesuatu dimudahkan oleh Allah swt. Kita hanya harus percaya bahwa pertolangan Allah selalu ada disaat kita membutuhkannya. Allah Maha Melihat segala sesuatu.

Kalau sudah mendapatkan kemewahan, seringkali seseorang mempertahankannya sekuat mungkin, namun tidak dengan Asiyah. Ia yakin kepada apa yang disediakan oleh Allah swt atas keyakinan imannya itu. Sehingga ia mengatakan, ya Allah, bangunkan untuk aku disisi engkau sebuah rumah di dalam surga. Inilah bijaknya asiyah, ia tidak hanya meminta rumah saja, namun juga memastikan letak rumah itu yaitu terlebih dulu ia meminta agar dekat dengan Allah. Rumah itu berada di sisi-Nya.

Maka Allah mencabut nyawanya sebelum batu itu jatuh kepadanya, sehingga ia tidak merasakan perasaan sakit, karna diwafatkan terlebih dulu.

Asiyah adalah wanita yang namanya terkenal bukan karna kepopuleran dari kerajaan besar suaminya Fir’aun namun karna hatinya yang teguh mempertahankan iman, meskipun harus mati.

Tubuhnya lemah, tapi di dalam hatinya menyimpan kekuatan dan keberanian.

Siapa yang tidak takut kalau ada batu besar yang akan dijatuhkan ke   atas tubuh kita, sehingga sakitnya akan memisahkan ruh dari tubuh? Dan ternyata seseorang seperti itu ada di masa dulu, yaitu hanya seorang wanita yang memiliki keteguhan iman di dalam hatinya. Seseorang yang seharusnya kita teladani, mengambil hikmah dan pelajaran dari perjalanan hidupnya.


2. Kisah Maryam Binti Imram 

Apakah wanita muslimah mengenal tentang Maryam? Tahukah wanita muslimah bahwa Allah telah memujinya sebagai wanita mulia yang menjaga kehormatannya dalam peradaban manusia? Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali Imran: 42).

Dialah pemuka kaum wanita di surga. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَآسِيَةُ

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah saw, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853).

Maryam, ayahnya adalah Imran seorang tokoh lelaki shaleh dari Ulama Bani Israil. Ibunya adalah wanita shalehah yang bernama Hannah binti Faqudz (saudara ipar Nabi Zakaria) yang telah menyerahkan putrinya yang masih dalam kandungan untuk berkhdimat di rumah Allah.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35).

Dan putranya adalah seorang rasul dari kalangan ulul azmi, Isa bin Maryam.

Makanan Yang Datang Langsung Kepadanya

Pada musim panas ada buah musim dingin. Pada musim dingin ada buah musim panas. Tumbuhnya janin Siti Maryam itu tidak seperti biasanya, dalam sehari seperti satu tahun. Ia duduk di suatu tempat beribadah terus-terusan. Mengabdi kepada Allah. Ternyata Siti Maryam mengagetkan Nabi Zakariya kala itu. Disaat Sayyidina Zakaria masuk lalu melihatnya tiba-tiba  datang makanan pada dirinya, Nabi Zakaria pun bertanya “darimana datangnya makanan itu wahai maryam”. Jawabnya “dari Allah langsung”.

Ini adalah  luar biasa. terjadi langsung dengan seorang hamba yang shaleh. Dan Siti Maryam tidak menganggapp hal ini special, karna dia yakin kepada Allah. Tapi mungkin dia tidak sadar kalau ini adalah karamah, karna bagi seseorang yang sudah dekat dengan Allah, pemberian secara langsung atau tidak langsung itu tidak ada bedanya.

Siti maryam bukan nabi, tapi kejadian seperi itu dinamakan karomah. Siti maryam adalah wanita shalehah yang diberikan dengan kejadiaan yang luar biasa. Ibunya Hannah juga wanita yang shaleh yang kerjanya hanya ibadah dan  ibadah. Bahkan begitu rindunya kepada kemuliaaan dia rindu kepada seorang putra lelaki agar bisa mengabdi kepada tempat ibadah yaitu beribadah terus-terusan. Akan tetapi dia mendapatkan seorang anak perempuan. Mula mula seoalah ini tidak seperti harapannya. Ternyata siti maryam biarpun perempuan ibadahnya luar biasa sampai diberikan karamah makan yang unik sehingga Nabi Zakaria sering mencuri-curi tempat ibadahnya siti maryam itu. Sehingga zakaria berdoa disitu, maka doanya pun dikabulkan oleh Allah, kemudian ia diberikan kabar gembira “kamu nanti akan punya anak” yaitu Nabi Yahya as.

Kita memiliki harapan, adakalanya Allah memberikan sesuatu yang lebih baik dari harapan itu. Karnanya, setiap jalan kehidupan yang tidak kita inginkan, sejatinya disanalah awal mula hikmah dan pelajaran hidup yang bisa kita dapati. Hanya saja, kita butuh kesabaran dan rasa syukur untuk menjumpai keindahan dan kemanisan hikmah itu. Allah meletakkan hikmah bagi orang-orang yang mau menghayati, maka belajarlah selalu, walau dalam keadaan apapun.

Masa Kecilnya

Imran ayah Maryam wafat saat anaknya ini masih dalam kandungan ibunya. Atau ia wafat bersamaan dengan kelahiran putrinya (Fabihudahum Iqtadih oleh Syaikh Utsman al-Khomis, Hal: 442). Ibu Maryam berdoa agar anaknya tidak diganggu oleh setan. Sehingga saat Maryam dilahirkan, setan tidak diperkenankan untuk mengganggunya. Nabi  saw bersabda,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا » ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }

“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” (HR. Bukhari 4548 dan Muslim 2366).

Menjelang masa kelahiran, Imran meninggal dunia. Hannah binti Faqudz harus melahirkan seorang diri tanpa didampingi suami. Kekecewaan juga menimpanya saat terlahir bayi perempuan karena Hannah menginginkan seorang putra untuk dihibahkan kepada Baitul Maqdis.

"Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan seorang putri, sedangkan aku bernazar akan menyerahkan seorang putra yang lebih layak menjadi pelayan dan pengurus Baitul Maqdis,".

Maryam terlahir sebagai anak yatim. Ia tidak mendapatkan kasih sayang seorang di dalam kehidupannya. Meski demikian, banyak ahli ibadah di Baitul Maqdis yang ingin mengasuhnya. Hal ini bisa diketahui saat Hannah binti Faqudz membawa Maryam ke Baitul Maqdis.

"Aku serahkan anakku ini kepada tuannya. Sebelum ini aku sudah bernazar untuk menyerahkan anakku menjadi hamba abdi di rumah suci ini," kata Hannah kepada para pendeta.

Pendeta yang berada di lokasi itu berebut ingin mengasuh Maryam. Tapi di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Mereka pun sepakat menggelar permainan membuang pensil masing-masing ke dalam sungai. Pensil siapa yang tidak tenggelam, maka dialah yang berhak menjaga Maryam. Permainan tersebut akhirnya dimenangkan Nabi Zakaria yang pensilnya tidak tenggelam.

Wanita Shalehah Yang Menjauhi Gangguan Laki-Laki

Allah memuji Maryam dengan wanita yang benar. Allah Ta’ala berfirman,

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ ۖ

“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar…” (QS. Al-Maidah: 75).

Maryam sangat menjaga kesucian dirinya. Ia tidak sembarangan berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Ia tidak menggoda laki-laki dan juga menjauhi godaan mereka. Apakah wanita tergoda dengan laki-laki? Ya, karena secara naluri, wanita pun memiliki ketertarikan kepada laki-laki. Dan wanita yang baik adalah yang menjaga diri untuk membuat laki-laki tergoda dan menjaga diri dari godaan laki-laki.

Pernah suatu ketika Jibril datang kepada Maryam. Datang dalam fisik laki-laki yang sempurna. Namun Maryam tetap menjaga dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا. قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَٰنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam: 17-18).

Melihat laki-laki yang sangat sempurna ketampanannya, Maryam tidak terkecoh dengan merendahkan dirinya mencoba menarik perhatian laki-laki tersebut. Ia malah berlindung kepada Allah dan meminta laki-laki tersebut menjauh. Ia menjaga kehormatannya.  Hingga akhirnya Jibril mengatakan,

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam: 19).

"Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina," jawab Maryam.

Allah kemudian berfirman dengan perantaraan Jibril, "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya "Jadilah", lalu jadilah dia,". (QS Ali Imran, 42-47).

Setelah kedatangan Malaikat Jibril, Maryam kemudian hamil. Saat kehamilam Maryam semakin membesar, orang pertama yang mengetahui adalah Yusuf bin Ya'kub an-Najjar, seorang ahli ibadah bani israil. Yusuf sempat terkejut karena dia mengetahui bahwa Maryam merupakan gadis yang taat ibadah dan sangat menjaga kesuciannya.

Sekuat apa pun menyembunyikan kehamilan dari masyarakat tetap akan diketahui. Maryam mendapat tuduhan atas kehamilan tanpa suami. Saat melahirkan putranya Isa Almasih, berbagai tuduhan zina datang silih berganti.

Maryam tak ingin menjawab tudingan tersebut. Dia pun mengisyaratkan agar orang-orang yang menudingnya berzina langsung bertanya kepada Isa Almasih yang saat itu digendongnya.

"Bagaimana mungkin kami berbicara dengan seorang anak bayi yang baru di lahirkan."

Atas izin Allah, Isa Almasih tiba-tiba berbicara sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah.

"Sesungguhnya aku ini hamba Allah, dia memberiku Al-kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabi, dan dia menjadikan aku seorang yang di berkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku di lahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku di bangkitkan hidup kembali,". (QS Maryam: 30)

Atas apapun cobaan yang menyakitkan hatinya itu, ia tetap bersabar. Di sela-sela cacian dari orang-orang ia mengadukannya hanya kepada Tuhan,  meminta kesabaran dan jalan keluar. Ia seorang wanita suci yang dikarunia oleh Allah nikmat yang besar, itu tak lain karna kepiawaian nya dalam menjaga kehormatan dirinya.


3. Kisah Siti Khadijah binti Khuailid

Siti Khadijah ditanya “Alangkah senangnya engkau menikah dengan Nabi Muhammad, seseorang yang lengkap dan sempurna.

Khadijah menjawab “Demi Allah, semenjak aku menikah dengan nya aku tidak bepikir aku akan bersenang-senang dengannya, tapi aku berpikir bagaimana nabi Muhammad bisa senang dengan aku. Itu lah cinta Khadijah.

Siapa yang menyemangati Nabi, dikala Nabi sendirian dan dicaci-caci. Siapa yang tak pernah meninggalkan Nabi dan terlalu susah memikirkan Nabi dalam keadaan apapun perjalanan kehidupan Nabi. Siti Khadijah khawatir dan menghabiskan seluruh kekayaannya memikirkan kekasih yang dicintainya. Ia kaya raya, tapi seluruh hartanya disedekahkan kepada agama islam ini.

Siti Khadijah ra, adalah istri Rasulullah saw  yang cantik dan kaya raya, namun pada akhirnya, karna memperjuangkan agama islam, ia menjadi seorang yang miskin. Tidak ada yang membuatnya takut ketika kehilangan begitu banyak harta yang telah lama diusahakannya. Karna baginya, harta yang diberikan kepada agama Allah takkan pernah hilang, melainkan terus bertambah dan berganti menjadi pahala yang teramat besar dan agung.

Siti Khadijah adalah Wanita yang istimewa. dua pertiga wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah ra. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

Demikianlah keanggunan Siti Khadijah ra, awalnya adalah wanita karir, namun pada akhirnya menjadi wanita yang sederhana.

Siti Khadijah, merupakan wanita yang teramat dicintai oleh Rasulullah saw, dan cinta itu tak pernah pudar sedikitpun, tak pernah berkurang, malah semakin bertambah. Karnanya, saat hari perpisahan Rasulullah dengannya, mulai hari itu sehingga hari-hari selanjutnya, Rasulullah teramat merinduinya.

Apa yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Rasulullah saat perjuangan hidup bersamanya? Apa yang membuat Siti Khadijah Selalu menjadi wanita istimewa walau saat-saat bersamanya telah berakhir? Adakah hal itu hanya semata-mata kecantikan wajahnya? Apakah karna kenangan yang sifatnya memang seperti itu, selalu membentuk rindu yang tak tertahankan?

Tentu saja tidak, cantiknya wajah bisa menua, namun wajah yang menua takkan pernah menghilangkan rasa cinta. Karna kecantikan yang sejati pada wanita selalu bisa membuatnya indah dipandang. Ya, kecantikan sejati itu adalah semua sifat keindahannya, semua tingkah laku kebaikannya, semua senyum serta air matanya yang ikhlas dan semua perjuangan dan semangatnya yang pantang menyerah disisi Rasulullah saw. Kecantikan itu terus bertambah, harum semerbak, dengan berbagai cobaan yang disertai sabar, dan ribuan nikmat yang disyukuri.

Jika kita memaknai kebahagiaan hidup, maka sepantasnya memaknai dengan cinta. Cinta yang mendatangkan rindu sehingga menginginkan pertemuan. Cinta pula yang menghadirkan rindu sehingga tidak sanggup menahan beberapa detiknya perpisahan.

Jika karna mencintai Allah ta'ala, semua takdir kehidupan ini adalah kebahagiaan hidup. Ketidakindahan dan berbagai rasa sakit, juga akan menjadi kebahagiaan hidup. Karna cinta kita kepada Allah akan memudahkan kita untuk melakukan semua perintah Allah swt. Dikala kita merindui, maka segala bentuk perbuatan ibadah adalah sesuatu yang tiba-tiba menjadi hobi dan kegiatan yang sangat digemari. Bagai pandangan mata menuju pantai dikala senja, ketika mata tergoda dengan kecantikannya, mata saksikanlah betapa inginnya berlama-lama bersama senja, tanpa rasa bosan.

Kerap sekali rasullullah menyebut khadijah

Pernah rasulullah kedatangan tamu ada yang mengatakan itu sepupu ada yang mengatakan itu teman khadijah yang sudah tua, dilayani dengan istimewa, yang bernama hasna’

Siti aisyah cemburu sampai ia mengatakan innallah kad abdalaminka khiran minha, rasul menjawab La ma abdalallah khairan minha, Amanatbi hina kafarrannas, wasaddaqatni hina kazzabaniyannas, wawasatni bimaaliha wa nafsiha, warazakaniyallahha minha Alwalad, inni ruziktu hubbaha.

Kawasan Aby syuaib, dia salurkan makanan dan pakaina kepada bani hasyim lewat jalan belakang, hinnga habis harta khadijah, sehingga harus memakn dedaunan

Permintaan Terakhir Siti Khadijah

Diriwayatkan dari kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

"Daku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu".

"Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung da'wah Islam sepenuhnya", jawab Rasulullah"

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik, “Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada disitu.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata didekat jasad Khadijah, “Wahai istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup,Siti Khadijah ra.

Menyedekahkan Tulangnya untuk dakwah Rasulullah

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring dipangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes dipipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.

“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib, jawab menantu Rasullulah.

Seperti itulah Siti Khadijah ra. Yang selalu diingat oleh seluruh penduduk muslim walau tahun terus berganti. Yang selalu menjadi teladan, karna keluhuran sifatnya. Yang tak pernah menyerah memberi apapun yang ia miliki demi tersebarnya keindahan islam.

Siti Khadijah ra. hanya meminta sesuatu yang sedikit pada akhir kehidupannya, dan memberi begitu banyak pengorbanan dikala perjalanan hidupnya.


4. Kisah Siti Fatimah az Zahra

Fatimah Az Zahra adalah putri tecinta Nabi Muhammad saw, yaitu seseorang yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad saw. Dari Fatimah lah Nabi Muhammad saw mempunyai keturunan yang disebut dengan Itrah Ahli Bait Rasulillah saw. Fatimah mempunyai kemulian-kemuliaan dan tingkah laku serta prilaku yang sangat mirip dengan prilaku Rasulullah saw. Akhlak beliau adalah akhlaknya Rasulullah. 

Fatimah adalah tokoh wanita yang telah banyak orang melupakannya, atau mungkin banyak putri-putri kita yang tidak mengenal sayyidah Fatimah Az Zahra kecuali namanya saja, bahkan ada diantara putri kita yang mungkin tidak mengenal kalau Fatimah Az Zahra itu adalah putrinya Rasulullah. 

Kita perlu mengenal tokoh-tokoh seperti Fatimah Az Zahra agar menjadi contoh kemudian menjadi idola yang bakal ditiru oleh anak-anak kita. Sekarang ini banyak anak-anak kita yang tidak mencintai Rasulullah tapi mengidolakan orang yang benci kepada Rasulullah atau bahkan yang dibenci oleh Rasulullah. Malah mengidolakan seseorang yang tidak pernah sujud. 

Rusaknya hati yang mempunyai keimanan meski bukan secara spontan. Perlahan dan sedikit demi sedikit seperti orang yang menyulam tikar. Pertama mengidolakan orang yang jauh dari Nabi kemudian lupa kepada Nabi sehingga baju yang dipakai oleh Nabi tidak lagi dipakainya.

Siti Fatimah adalah seseorang yang ikhlas menemani Rasulullah di awal-awal perjuangan dakwah Rasulullah saw. Nabi Muhammad senantiasa ditemani Sayyidah Fatimah Az Zahra disaat memasuki perkampungan-perkampungan kota Mekkah. Kedekatan Fatimah tidak seperti putri-putri yang lainnya. 

Sayyidah Fatimah sangat dicintai oleh Rasulullah. Bahkan Rasulullah dikala mengantar pernikahan sayyidah Fatimah beliau berkata “Ya Allah Fatimah itu dariku dan aku dari Fatimah seperti engkau telah membersihkan aku dari noda bersihkanlah Fatimah dari noda.” 

Dimasa kecilnya Fatimah senantiasa menemani ayahandanya. Fatimah lah yang membersihkan kotoran yang diriwayatkan dalam hadis Bukhari waktu orang-orang tengah berkumpul kemudian mengatakan siapa yang berani menumpahkan kotoran di kepalanya Muhammad yang lagi sujud, dan ada satu orang yang bersedia menumpahkan kotoran itu kepada Nabi Muhammad saw, dan ternyata Siti Fatimah lah yang bersedia membersihkan kotoran itu. Seperti itulah perjuangan hebat dari Fatimah Az Zahra.

Bahkan siti Fatimah pernah menemani Rasulullah yang tengah dipukul oleh kaum kafir Quraisy. Saat itu Rasulullah terus menyampaikan kebenaran hingga di tegur oleh putri beliau yang saat itu masih berumur 7-8 tahun dan berkata “Abah ada darah di pelipismu. Sayyidah Fatimah melihat perjuangan ayahanda beliau “Abah ada darah di pelipismu abah.. Rasulullah yang awalnya tidak merasakan sakit kemudian menoleh kepada putri beliau “Benarkah ada darah di pelipisku wahai Fatimah?”. “Iya ayah” kemudian saat itu beliau mengusapkan surban dan segera menghilangkan darah itu. Dan saat itu Siti Fatimah bertanya khawatir dengan wajah ayahandanya yang berdarah, “Abah takut dengan darah?” , Rasulullah menjawab “Tidak nak, aku tidak takut dengan darah, akan tetapi aku takut jika darah ini jatuh ke bumi nanti bumi marah lalu mengutuk umatku. Aku tidak ingin umatku dikutuk. MasyaAllah seperti inilah cinta Rasulullah kepada umat. 

Dan juga dikala perang uhud, saat banyak luka yang didapati oleh Rasulullah, kala Siti Fatimah lah yang mengobatinya, mengusap darah-darah di tubuh Rasulullah saw. Bahkan saat itu Rasulullah kesulitan berjalan karna kakinya terasa begitu sakit, dan yang memapahnya adalah Fatimah Az- Zahra yang belum besar.   

Jika Fatimah datang Rasulullah langsung berdiri dan mencium kening Fatimah, dan didudukkan di tempat yang mulia. Begitu juga Fatimah jika Rasulullah mendatanginya, maka ia berdiri dan mempersilahkan Rasulullah duduk di tempat yang mulia. 

Fatimah adalah seorang yang dekat dengan Rasulullah dan sangat memperhatikan urusannya, dan sangat memperhatikan urusan ayahandanya. Sebelum menikahnya Sayyidah Fatimah, ia sangat bahagia dikala mendengar berita menikahnya Rasulullah dengan Sayyidah Aisyah ra. Karna Fatimah melihat bahwasanya Rasulullah adalah seorang ayah, seorang Nabi yang perjuangan nya berat, dan butuh seorang pendamping yang bisa membantunya. Begitulah naluri tentang  cinta Fatimah kepada ayahandanya. Fatimah senantiasa berpikir tentang Rasulullah saw.

Kemudian tersebarlah berita menikahnya Fatimah Az Zahra. Abu Bakar datang meminang Fatimah dan Rasulullah menjawab, “Aku menunggu berita dari langit”. Ditolak dengan lembut dan Sayyidina Abu Bakar tidak marah. Karna memang belum waktunya, dan nanti memang akan tiba masanya, datang seseorang yang sangat mencintai Rasulullah dan Rasulullah pun sangat mencintainya. 

Menantu Rasulullah saw semuanya orang yang kaya raya, tapi Ali adalah seorang yang sederhana. Ini adalah takdir yang telah di atur oleh Allah, bahwasanya Fatimah akan menjadi contoh untuk putri-putri zaman sekarang. 

Dimulai dari datangnya Sayyidina Ali yang waktu itu maju mundur untuk meminang Fatimah Az Zahra. Bertemu dengan Abu Bakar, Umar, dan yang lainnya, mereka mendukung Sayyidina Ali untuk maju. “Mungkin Sayyidah Fatimah adalah seseorang yang pantas bersanding denganmu”. Datanglah Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah untuk menyampaikan maksudnya dan Rasulullah langsung menjawab “Ahlan wa sahlan”. Ternyata Rasulullah telah menanti kedatangan Sayyidina Ali sejak dulu.

Rasulullah memilih Sayyidina Ali bukan karna beliau merupakan seseorang yang sangat kaya, tapi Rasulullah memilihnya karna akhlak dan karna kebaikan disisi Sayyidina Ali. 

Sayyidina Ali yakin bahwa pernikahan ini akan terwujud dengan sangat sederhana. Oleh Rasulullah dan Sayyidina Ali dipersiapkan rumah pengantin dengan sangat sederhana. Hanya dengan pasir yang ditinggikan,  kemudian hanya dengan tikar pelepah kurma, kemudian selimut dari kulit binatang yang dilembutkan dan itu pun tidak mencukupi kalau digunakan untuk berselimut. Kalau digunakan untuk menutup kepala maka kaki nya akan terlihat, dan kalau digunakan untuk menutup kaki maka kepala yang akan terlihat. Kemudian baju yang dipersiapkan kepada Fatimah adalah baju yang ditambal dengan 12 tambalan, yang diantaranya Rasulullah sendiri yang menambal. 

Kemudian setelah tejadi pernikahan, bergembiralah Rasulullah. Sampai Rasulullah berdoa untuk Fatimah dan sayyidina Ali, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya dan mencintai keduanya, dan berkahilah keduanya, dan berkahilah keturunannya,.” Dan memang benar keturunan Rasulullah telah diberkahi. 

Setelah Fatimah menikah dengan Sayyidina Ali, mereka menjalani hidup dengan sangat sederhana. Lihatlah pernikahan wanita yang mulia. Disaat Fatimah diberi degan baju yang sederhana bukan karna Rasulullah tidak punya baju. Namun karna Rasulullah tidak ingin mendidik putrinya dengan kesombongan. 

Fatimah menjalani rumah tangganya dengan penuh keserdahanaan, tidak banyak menuntut kepada Sayyidina Ali. Beliau menumbuk gandum dengan tangannya sendiri hingga tangannya membengkak karna terlalu lama menumbuk gandum. 

Di dalam perjalanan rumah tangganya, Fatimah banyak menemukan perjalanan hidup yang perlu kita teladani.  Rumah tangga yang dibangun oleh keduanya selalu dalam keadaan nyaman dan indah, tidak ada keributan apapun karna kekurangan ekonomi. MasyaAllah betapa sabarnya Fatimah Az Zahra. Bukan hanya sebentar saja, tapi setiap saat Fatimah berada di dalam kekurangan karna Sayyidina kerja tiga hari tapi hanya cukup untuk makan sehari. Bahkan sayyidina Ali dan Fatimah bernazar karna saat itu Hasan dan husen sakit, “Bila nanti mereka sembuh kita akan berpuasa tiga hari”. 

Di hari yang pertama Sayyidina Ali bekerja dan hanya mendapat sepotong roti. Hanya mengandalkan buka degan roti saja. Ketika hendak berbuka dan terdengar azan, waktunya merasakan makan ada air, tiba-tiba saat itu ada yang mengetuk pintu, “Aku miskin. Aku belum makan. Aku meminta sesuatu untuk memakan”. Sayyidina Ali melihat kepada istrinya dan kepada kedua anaknya, dan mereka mengangguk. Dan semua mengizinkan. Akhirnya Sayyidina Ali memberikan roti kepada orang miskin itu, dan pada malam itu, mereka hanya berbuka dengan air putih. 

Esok harinya, puasa dilanjutkan, hari kedua ada yang mengetuk pintu, aku orang miskin, tolong kasih aku makan.  Dan seperti itu pula, mereka berbuka puasa hanya dengan air putih.

Dan hari ketiga, ada yang mengetuk pintu, aku adalah seorang tawanan yang lapar. Dan akhirnya, mereka tiga hari tidak makan. Dan ini bukan hanya saat ini saja. Tapi kejadian seperti ini sering terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya Fatimah az Zahra dan Sayyidina Ali. Namun tidak pernah ada masalah apapun di antara keduanya. Mereka memberikan makanan itu padahal mereka membutuhkannya. Mereka memberikan ini karna mengharapkan ridha Allah dan tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari manusia. Ini adalah kisah di rumah tangga Sayyidina Ali dan Fatimah Az Zahra yang dijalani dengan kesederhanaan.

Diantara kemuliaan Fatimah yang luar biasa adalah, waktu itu Sayyidina Ali ditanya oleh Rasulullah, “Siapakah wanita yang paling bagik?” Semua sahabat pulang kerumah masing-masing. Fatimah sempat bertanya “Wahai suamiku, apa yang engkau dapat dari Rasulullah? Ali menjawab kami mendapat banyak dan juga mendapat pertanyaan yang tidak bisa kami jawab. “Wanita yang mulia itu seperti apa”. “Aku punya jawabannya”. Dibisikkan lah kepada Ali. Seketika itu Ali senang. 

Esoknya bertemu dengan Rasulullah. “Wanita paling mulia adalah wanita yang tidak pernah dilihat lelaki dan tidak pernah melihat lelaki”. Rasulullah bertanya siapa yang memberitahumu, dia adalah seseorang yang paling dekat denganmu Ya Rasulullah. 

Maknanya, Ia tidak senang ketika dilihat oleh lelaki, dan merasa tidak nyaman kalau dilihat lelaki. Merasa malu kalau dilihat. Seperti itulah maksudnya. Keluar dengan wajar, yaitu ditemani oleh mahram. Tidak dandan ketika keluar. 

Kalung yang istimewa

Putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar, lembut hati, suka menolong dan penyayang. Salah satu kisah kebaikan hati istri Ali bin Abi Thalib itu adalah tentang kalung miliknya.

Suatu ketika Rasullah sedang duduk di masjid bersama dengan para sahabat, tiba-tiba datang seorang musafir yang kehabisan bekal. Si musafir berkata kepada Rasul. "Ya Rasulullah, saya lapar sekali, berilah saya makanan. Saya tak punya pakaian kecuali yang saya kenakan, saya tak punya uang untuk bekal pulang. Tolong saya ya Rasul".

Rasul lalu menjawab "Sayang aku sedang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepadamu, tetapi orang yang menunjukan kebaikan adalah sama dengan orang yang melakukannya."

Rasul lalu menyuruh si musafir untuk ke rumah putrinya, Fatimah Az Zahra. "Pergilah ke tempat orang yang dicintai Allah dan Rasulnya, dia lebih mengutamakan Allah dari pada dirinya sendiri, itulah Fatimah putriku."

Kemudian Rasulullah meminta sahabatnya untuk mengantar musafir ke rumah Fatimah. Ketika di rumah Fatimah, ternyata tidak ada sesuatu yang layak dimakan, Fatimah juga tidak punya uang untuk diberikan. Fatimah kemudian teringat kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. Dengan hati ikhlas Fatimah lalu memberikan satu-satunya harta yang dimilikinya kepada si musafir. "Juallah kalung ini, mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi kebutuhanmu," kata Fatimah.

Musafir itu lalu kembali ke tempat Rasul yang sedang berkumpul dengan sahabatnya dan memperlihatkan kalung yang diberikan Fatimah kepadanya. Rasul begitu terharu dan tak kuasa menahan tangis, putri tercintanya rela memberikan satu-satunya harta yang dimiliki untuk membantu si musafir itu.

Salah seorang sahabat bernama Ammar bi Yasir mengajukan diri untuk membeli kalung itu. "Berapa hendak kau jual kalung itu?" tanya Ammar bin yasir kepada si musafir.

"Aku akan menjualnya dengan roti dan daging yang bisa mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku dan uang 10 dinar untuk bekalku pulang". Ammar lalu membeli kalung itu dengan harga 20 dinar emas, ditambah sebuah baju, serta seekor unta untuk tunggangan si musafir.

Setelah itu Ammar berkata kepada budaknya yang bernama, Asham. "Wahai Asham, pergilah menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah."

Rasulullah yang menerima pesan Ammar tersenyum dan melakukan hal yang sama. Fatimah begitu berbahagia menerima hadiah kalung dari ayahandanya, meskipun dia tahu kalung itu adalah kalung miliknya yang diberikan kepada musafir. Dia juga mendapat hadiah seorang budak.

Fatimah yang berhati lembut bukan berbahagia mendapatkan budak, dia justru membebaskan Asham dan menjadikan Asham manusia merdeka. Asham begitu gembira karena dirinya tak lagi menjadi budak. Dia tersenyum dan tertawa hingga membuat Fatimah bingung. Asham lalu berkata.

"Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung itu. Kalung itu telah mengenyangkan orang yang lapar, telah menutup tubuh orang yang telanjang, telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya telah membebaskan seorang budak," jawab Asham.

Tidak Pernah Haid

Siti Fatimah binti Muhammad lahir pada 20 Jumadil Akhirah lima tahun sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul. Dia merupakan putri keempat Nabi Muhammad dan ibunya Khadijah binti Khuwalid.

Kelahirannya disambut sangat gembira oleh Rasulullah karena dia lahir pada saat tahun ke lima sebelum diangkat menjadi Rasul.

Fatimah mendapat julukan Az-Zahra karena dia tidak pernah haid dan pada saat melahirkan nifasnya hanya sebentar. Dia juga dijuluki sebagai pemimpin para wanita-wanita penduduk surga.

Dalam kitab fataawa adz-Dzahiriyyah di kalangan Hanafiyyah disebutkan bahwa

"Sesungguhnya Fatimah tidak pernah mengalami haid sama sekali, saat beliau melahirkan pun langsung suci dari nifasnya setelah sesaat agar tiada terlewatkan salat baginya, karenanya beliau diberi julukan Az-Zahra".

Aisyah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Ketika aku dalam perjalanan ke langit, aku dimasukkan ke surga, lalu berhenti di sebuah pohon dari pohon-pohon surga. Aku melihat yang lebih indah dari pohon yang satu itu, daunnya paling putih, buahnya paling harum. Kemudian, aku mendapatkan buahnya, lalu aku makan. buah itu menjadi nuthfah di sulbi-ku. Setelah aku sampai di bumi, aku berhubungan dengan Khadijah, kemudian ia mengandung Fatimah. Setelah itu, setiap aku rindu aroma surga, aku menciumi Fatimah". (Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang surat Al-Isra: 1; Mustadrak Ash-Shahihayn 3: 156).

Pada usia 5 tahun, Fatimah ditinggal ibundanya Khadijah. Mau tidak mau secara langsung dia menggantikan tempat ibundanya untuk melayani, membantu dan membela ayahandanya.

Dalam usia kanak-kanak Fatimah mendapatkan berbagai cobaan, salah satunya adalah menyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish kepada ayahnya. Sering kali dia meneteskan air mata di pipinya, ketika melihat penderitaan yang dialami Nabi Muhammad.

Saat Fatimah beranjak dewasa, banyak sahabat-sahabat dari ayahnya yang hendak melamarnya, antara lain Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun, Rasulullah menolak pinangan sahabat-sahabatnya tersebut.

"Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah)".

Kemudian malaikat Jibril datang untuk mengabarkan Rasulullah bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib. Tak lama akan kehadiran malaikat Jibril, Ali bin Abi Thalib datang menghadap Rasulullah untuk meminang Fatimah. Dengan tangan terbuka Nabi Muhammad menerima Ali bin Abi Thalib sebagai menantunya.

Acara pernikahan putrinya berlangsung dengan kesederhanaan, karena pada saat itu Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan mahar. Ali meminang Fatimah dengan mas kawin sebesar 400 dihram.

Sebelumnya dia menggadaikan baju besinya kepada Utsman bin Affan. Rasulullah menyimpan perasaan kasih sayang sangat mendalam terhadap Ali bin Abi Thalib. Beliau pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib.

"Fatimah lebih kucintai dari pada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia dari pada dia". (HR Abu Hurairah).

Wasiat Siti Fatimah Menjelang Wafat

Pernah suatu ketika Fatimah berada di depan rumah bersama Asma binti Umais, disaat itu ada jenazah yang lewat dan tiba-tiba Fatimah menangis, dan Asma bertanya, kemudian Fatimah menjawab “Nanti aku akan mati. Dan aku tidak ingin seperti itu. Betapa malunya, ketika nanti mati dan diangkat di atas para manusia lalu lekuk tubuhku dilihat semua orang.” 

Fatimah malu kalau lekuk tubuhnya dilihat semua orang. Lalu Asma bercerita “Saat aku di Habasyah aku melihat ketika ada orang yang meninggal  maka dibuatkan baginya peti kemudian mayat dimasukkan dalam peti tersebut dan ditutup dengan pelepah kurmah. Fatimah sangat senang mengetahuinya,” Asma! Aku berwasiat, ketika aku mati tolong buatkan aku yang seperti itu, dan Asma sendiri yang membuatnya. 

Maksudnya adalah menjaga kehormatan. Fatimah karna rasa malunya sampai berwasiat jika meninggal nanti dibuatkan yang seperti ini dan termasuk wasiat lainnya adalh dimakamkan di malam hari. Karna sangat malunya. Malu nya seorang wanita adalah kemuliaan. Rasa malunya Fatimah begitu luar biasa.

Menjelang wafat,  saat itu Rasulullah merasakan sakit yang sangat hebat. Seperti biasanya, Kedatangan Fatimah menjenguk Rasulullah,  membuat Rasulullah langsung berdiri, dan ia lupa bahwa sedang sakit, tapi ia tidak mampu, berdiri lagi tapi tidak mampu. Kkemudian Fatimah bergegas datang kepada ayahnya  “tidak usah berdiri ayah” . Kemudian ia mencium keningnya Rasulullah lalu agak menjauh. Karna memang disitu ada orang-orang yang menemani dan merawat Rasulullah diantara nya Asiyah. 

Tiba-tiba Rasulullah meminta “datanglah kesini”, dengan bahasa isyarah. Lalu disaat dekat dengan Rasulullah, kemudian ditarik kepala Fatimah didekatkan telinganya ke bibir Rasulullah dan disaat itu Rasulullah berbisik. Saat itu Fatimah menangis luar biasa. Kemudian ditarik lagi dan dibisik yang kedua kalinya. Dengan bisikan ini ternyata Fatimah tidak menangis lagi, justri ia tersenyum. Sehingga setelah itu ditanya, Fatimah aku lihat kamu menangis dan kemudian tersenyum, itu kenapa. Dan ternyata, bisikan pertama itu adalah, “Wahai Fatimah, sebentar lagi aku akan meninggal, dan akan menghadap kepada Allah. Yang disadari olehnya adalah perpisahan, menjadikannya menangis karna berpisah dengan Rasulullah. Kemudian bisikan kedua bahwa “Engkau adalah pertama dari keluargaku yang akan menyusulku.” Dan benar, setelah 6 bulan Rasulullah meninggal Fatimah menyusulnya. 

Fatimah menanti-nanti, yang ada hanya air mata kepada ayahandanya. Waktu 6 bulan dirasakan lama sekali.  Ingin segera bertemua kembali kepada ayahandanya. Ssehingga tampaklah fisik nya semakin lemah dan semakin lemah. Orang mengatakan nya sakit padahal ia tidak sakit. Duduk bersama Ali dan ia berkata sepertinya waktu ku sudah dekat, wahai suamiku.  Engkau tidaklah punya kesalahan kepadaku wahai putri Rasulullah. 

Fatimah berwasiat, aku berwasiat tiga wasiat, setelah aku meninggal. Nikahilah Umamah, putri dari Zainab karna sifat dan wataknya sangat mirip denganku, ia bisa mendidik anak ku. Kedua, di saat aku mati, antarlah aku dengan keranda seperi yang telah disampaikan Asma, dan yang ketiga kuburlah aku di malam hari. Itu semua akan dijalankan oleh Ali bersama Asma.

Tangis selalu mengiringi Fatimah, dukanya adalah karna kerinduan yang sangat dalam, dan karna ingin bertemu dengan Muhammad. Fatimah merasakan sakit yang sangat. Fatimah bertanya kepada Asma, Hasan dan Husen dimana, Asma menjawab, keduanya masih diluar, baiklah, aku akan membaca Al-quran kalau nanti sudah tidak terdengar suara al quran berarti itulah waktuku. 

Asma berada di depan sambil menunggu kedatangan Hasan dan Husen. Asma baru sadar bahwa Fatimah telah menyusul Nabi Muhammad saw. Asma menangis, dan ia menangis karna teringat kepada Hasan dan Husen, apa yang harus diceritakannya. Ia kebingungan. Ia berusaha menghapus air matanya, namun juga tetap keluar. Berhadapan Hasan dan Husen dan ia menangis, mereka menyadarinya, dan mereka mencium keningnya Fatimah. Saat itu Ali datang, dan Ali memandikannya, dan dihantarkan ke kubur dengan cara seperti yang telah diwasiatkannya.

Sayyidah Fatimah Az-Zahra, bisa mendapati gelar mulia di surga, bahkan dengan pakaian sehari-harinya yang penuh tambalan. 

Fatimah Az-Zahra menjadi anak kesayangan Rasulullah, bukan hanya karna wajahnya yang teramat cantik, tapi dari kehebatannya bertahan dalam ribuan rasa sakit, tanpa menghilangkan sifat lemah lembut dan perhatian kasih sayang yang dimilikinya. Pada diri Fatimah ada kelebihan akhlaknya yang luar biasa. Kedua rasa malunya yang tinggi. Disamping itu pengabdiannya yang luar biasa. Dan juga Fatimah sangat dekat dengan Rasulullah bukan dekat dengan pergaulan tapi malah saling membalas cinta.

Jadilah gadis yang hebat, yang tak pernah menyerah walau teramat sakit.. karena Fatimah Az-Zahra, terlebih sedih penderitaanya..

Ikutilah jalan hidup wanita muslimah di masa lalu, maka kamu akan mencintai kepribadian mereka. Mereka adalah wanita-wanita yang mulia, namun masih juga diberikan cobaan yang begitu dahsyat. Mereka itu wanita yang dikagumi penduduk langit, dan namanya dirindukan oleh penduduk bumi. 

Kamu adalah keanggunan, dikala menapaki jalan kehidupan dengan kesabaran. kamu adalah keindahan, ketika menyelusuri pedihnya kehidupan dengan tawakkal.. 


Related Posts

Posting Komentar