Jangan Menyerah Mencari Harta yang Halal, Karena Ada Hikmah yang Luar Biasa

Posting Komentar

Dalam roda waktu yang terus berputar, dalam setiap detik yang telah berlalu, kesemua waktu itu, tentu harus kita pergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Karna tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-NYA.

Allah SWT berfirman di dalam surat Adz-zariyat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku”

Sebagai seorang muslim yang ingin mendekatkan diri serta berbuat taat kepada Allah SWT, Sang Maha Pencipta, kita harus memperhatikan kualitas dari ibadah yang kita lakukan. Apapun usaha yang kita lakukan, demi mendapat kehasilan yang sempurna dan sesuai harapan, maka semestinya dilakukan dengan berbagai tahapan yang dimulai dari sebuah strategi yang harus direncanakan sebelumnya. 

Yaitu sebuah strategi yang menumbuhkan kemauan kuat untuk beribadah serta menghilangkan rasa malas beribadah. 

Tak banyak strategi yang kita butuhkan demi mencapai dua kondisi yang tadi (menumbuhkan kemauan beribadah serta menghilangkan kemalasan beribadah).  Kita bisa memulainya dengan menjaga kondisi rohani pada tubuh melalui makanan yang halal.

Allah SWT berfirman di dalam surat Al mu’minun ayat 51:

عَلِيمٌ تَعْمَلُونَ بِمَا إِنِّي صَالِحًا وَاعْمَلُوا الطَّيِّبَاتِ مِنَ كُلُوا الرُّسُلُ أَيُّهَا يَا

“Wahai rasul-rasul! makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “

Allah SWT memerintah hambanya untuk memakan makanan yang baik yaitu makanan yang halal, Kemudian memerintah untuk mengerjakan amalan yang shaleh. Hal ini, demi meringankan tubuh untuk suka melakukan ibadah dan menjauhkan  rasa malas. Karna sejatinya, apa yang masuk kedalam perut kita maka akan diproses menjadi energi bagi tubuh kita. 

Apabila yang masuk kedalam perut kita besumber dari yang halal maka energi yang dihasilkan untuk tubuh kita akan menjadi hal yang positif, sebaliknya apabila yang masuk kedalam perut kita bersumber dari yang haram, maka energi yang dihasilkan bagi tubuh kita akan menjadi hal yang negatif. 

Hal ini, senada dengan sabda Nabi Muhammad SAW bersabda: “Siapa saja yang mengonsumsi makanan yang halal maka mau tidak mau anggota tubuhnya akan taat kepada Allah swt.” 

Dalam kitab ihya ulumiddin, halaman 140 juz 2, cetakan maktabah mesir, disebutkan beberapa manfaat serta kelebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, yaitu:


1. Mustajabah doa

روى أن سعدا سأل رسولالله أن يسأل الله تعال أن يجعله مجاب الدعوة، فقال له : أطب مطعمك تستجب دعوتك  


 Meriwayat oleh Thabrani pada kitab ausad dari hadis ibnu abbas “bahwasanya Sa’ad meminta kepada Rasulullah SAW agar beliau berdoa kepada Allah SWT supaya dirinya (Saad) menjadi seseorang yang mustajabah doa. Maka Rasulullah berkata kepadanya ‘baikkanlah makannanmu, maka diijabahkan doamu’.

2.  Memiliki hati yang bersinar

لسانه على قلبه من الحكمة ينابيع وأجرى قلبه الله نور يوما ربعينأ لحلال ا أكل من

Nabi SAW bersabda : “seseorang yang mengonsumsi makanan yang halal selama 40 hari maka Allah ta’ala akan menyinari hatinya, dan  menumbuhkan hikmah didalam hatinya. (riwayat Abu nu’im pada kitab hilliah dari hadis abi ayub)

Setiap perbuatan ibadah yang kita lakukan, sangat dipengaruhi oleh kebersihan dan kecemerlangan dari hati. Memiliki hati yang bersinar dan bercahaya tentu saja akan memunculkan perintah yang bersifat baik pada anggota tubuh. Karna hati adalah raja yang memerintah anggota tubuh untuk melakukan apa saja.   Jika seorang raja memiliki sifat yang baik maka setiap perintahnya adalah perintah yang baik yang takkan berujung pada kebinasaan dan kerusakan. 

maka untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah SWT, sepantasnya kita memperhatikan kecemerlangan hati, melalui mengonsumsi makanan yang halal. Karna dengan hati yang baik maka anggota tubuh akan bekerja dengan baik pula dalam hal beribadah.

3. Engkau seolah mujahid fii sabilillah yang akan mencapai derajat syuhada.

من  سعى على عياله من حله فهو كالمجاهدة في سبيل الله ، ومن طلب الدنيا حلالا في عفاف كان في درجة الشهداء 

Nabi SAW bersabda “barangsiapa yang bekerja untuk keluarganya dari perkara yang halal, maka dia seolah mujahid fii sabilillah. Barangsiapa yang mencari kehalalan dari dunia untuk menjaga kehormatannya maka dia mencapai derajat para syuhada.”  (riwayat Thabrani pada kitab ausad dari hadis abi hurairah)

seseorang yang berperang di jalan Allah akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Darah-darah akan bertumpah, serta goresan yang menjadi luka, akan membekas di tubuh. Bahkan terkadang, nyawa menjadi bayarannya. Kesusahan yang seperti itu, akan kita rasakan saat perjuangan perang fii sabilillah. Menariknya, kesusahan dan kepayahan seseorang ketika mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dinilai sama oleh Allah SWT dengan memberikan pahala yang setingkat dengan perang fii sabilillah. Hal ini, karna tingginya nilai kesusahan dalam mencari sesuatu yang halal di permukaan bumi ini sehingga Allah SWT memberikan pahala yang besar pula. 

Selain itu, didalam kitab ihya ulumuddin juga disebutkan beberapa kemudharatan mengonsumsi makanaan yang haram, yaitu:


1. Tidak diterimanya shalat fardhu dan sunnah

إن لله ملكا على بيت المقدس ينادى كل ليلة : من أكل حراما لم يقبل منه صرف ولا عدل. فقيل الصرف النافلة، والعدل الفريضة

Dari ibnu abbas r.a Nabi SAW bersabda, sesungguhnya bagi Allah ta’ala ada sebuah kerajaan diatas baitil muqaddis yang menyeru setiap malamnya ‘seseorang yang memakan makanan yang haram maka tidak akan diterima shalat fardhu dan sunnahnya.

2. Sebuah daging yang akan menjadi bagian dari neraka

كل لحم نبت من حرام فالنار أولى به

Meriwayat oleh turmidzi dari hadis ka’ab bin ajrah bahwasanya Nabi SAW bersabda “setiap daging yang tebentuk dari makanan yang haram maka daging itu akan dilahap oleh api neraka”

3. Hilangnya kepedulian dari Allah SWT.

الله من أين أدخله النار   يبال لم  المال  كتسبا ينأ من يبال لم من

meriwayat oleh abu Mansur dailami dari hadis ibnu umar, bahwasanya Nabi SAW bersabda “seseorang yang tidak peduli dari arah mana ia berusaha maka Allah tidak akan peduli dari pintu mana ia memasuki neraka.” 

Hilangnya rasa saling peduli antara manusia sangatlah tidak menyenangkan. Bagaimana pula seandainya kita tak lagi diperdulikan oleh Allah SWT, pastilah rasanya sangat sakit. Karna ketika harapan seseorang yang telah pupus, sebab sakitnya berharap kepada manusia maka seseorang itu masih bisa mengadu. Walau tak ada sesiapapun disisinya, namun keluh kesahnya masih ada yang mendengar. Masih ada tempat menumpahkan air mata dimana setiap tetesannya terhitung sebagai pahala jika tanpa kedustaan. Ya, Allah ta’ala selalu mendengar hambanya yang mengadu. Allah ta’ala Maha Penyayang diantara para penyayang. Lantas bagaimana rasanya saat harapan terbesar kita yaitu kasih sayang Allah ta’ala tidak dapat lagi kita genggam. Siapa yang akan menolong, padahal Allah SWT Yang Maha Menolong. Siapa yang akan membantu, padahal tiada kekuatan makhluk melainkan kekuatan dari Allah SWT.

 Maka, marilah menjauhi dari hal-hal yang dapat memunculkan kemarahan Allah ta’ala. Kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Menjaga tubuh dari makanan yang haram adalah salah satunya. 

Tak hanya mengonsumsi makanan halal yang memunculkan reaksi positif dan negatif. Berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, pun mempunyai nilai. Berikut ini diantara beberapa hikmah berusaha mencari rezeki yang halal, yaitu:

1. Menghapus dosa yang takkan terhapus oleh perkara yang lain.

من الذنوب ذنوب لا يكفرها الا الهم فى طلب المعيشة 

“sebagian dari beberapa dosa yaitu dosa yang takkan terhapus melainkan dengan kedukaan dan kesusahan dalam mencari kebutuhan hidup”

Tidak ada yang sia-sia atas banyak atau sedikitnya sebuah usaha, bahkan untuk perjuangan hidup saat mencari sesuap nasi. Ada nilai indah memang di dalam perjuangan ini. Seorang ayah atau ibu, mereka berdua mengajarkan makna kasih dan sayang yang besar teruntuk keluarganya. Kita yang masih kecil, memang amat bodoh saat itu. Tidak mengenal kerja keras dan tanpa peduli keringat-keringat yang mengalir. Tapi, dalam kebodohan sang anak yang tak mengerti kepahitan hidup, mereka orang tua masih saja mencari dan membawa pulang hadiah untuk anak-anak mereka. Mereka mengerti bahwa esok anak-anak akan menangis kalau ada keinginan yang tak terpenuhi. Dalam hal ini, secara tidak sadar, orang tua telah berjuang dengan sangat ikhlasnya kepada anak-anak mereka. Dengan cinta yang besar pula teruntuk buah hatinya, mereka tak pernah peduli pada hari-hari yang terik, dan tak menghiraukan tentang hujan yang dingin. 

Seperti inilah cinta. Engkau berusaha keras tanpa kepedulian pada sakitnya jiwamu. Engkau menghadiahkan tanpa berharap diberi nilai. Hari esok masih memberi, meskipun hari ini tidak dihargai. Maka wajar saja, kerja keras orang tua dalam mencari nafkah memiliki nilai yang besar disisi Allah ta’ala. Seperti sabda Nabi SAW, “ada dosa yang takkan terhapus melainkan dengan kesusahan dalam mencari kebutuhan hidup”.

2. Bersama dengan orang yang shidiqin dan syuhada.

التاجر الصدوق يحشر يوم القيامة مع الصديقين والشهداء

“Saudagar yang benar dalam niaganya, akan dihamparkan nanti pada hari qiyamat beserta orang-orang shiddiqin dan syuhada.”

Dalam berusaha mencari kebutuhan hidup, kita telah memiliki nilai dan tanggapan yang baik disisi Allah SWT. Namun demikian, seandainya usaha itu, adalah usaha yang tidak sesuai dengan syariat islam, maka tanggapan yang baik tadi telah ternodai. Sebaliknya, bagi mereka yang menjalani kesusahan dalam mencari nafkah, namun kesusahan itu dari sebuah usaha yang dinilai baik dalam agama, maka mereka tergolong kepada orang-orang yang nantinya akan bersama dengan orang-orang yang shiddiqin dan syuhada.

Berkumpul bersama dengan orang-orang yang disayangi oleh Allah SWT, tentu memiliki makna yang sangat indah. Hal ini, merupakan harapan yang seharusnya diharapkan. Bukankah berada bersama orang-orang yang mulia, kita pun menjadi golongan orang-orang yang mulia?

3. Menjumpai Allah ta’ala, dan wajahnya seolah rembulan.

من طلب الدنيا حلالا و تعففا عن المسئلة و سعيا على عياله و تعطفا على جاره لقى الله و وجهه كالقر ليلة لبدر

“Seseorang yang mencari dunia karna harta yang halal dan karna menjaga dari meminta kepada orang, serta karna mengusahakan belanja atas keluarganya dan karna mengasihi atas orang yang dikampungnya, maka mereka menjumpai zat Allah ta’ala padahal wajahnya layaknya bulan purnama.”

Di dalam surga, bukan bersama dengan bidadari yang menjadi kesenangan yang tak terlupakan. Bukan menempati istana-istana tinggi dari emas yang ditunggu-tunggu. Namun, yang menjadi dambaan bagi setiap ahli surga saat itu adalah bertemu dengan zat Allah ta’ala.

Pertemuan saat itu, bukan pertemuan yang biasa saja. Pakaian yang dikenakan selaras dengan kecantikan dan ketampanan wajah. Bahkan, mengalahkan keindahan dari cahaya rembulan pada ketika purnama. Tidak sama seperti keheranan manusia atas kecantikan taman-taman bunga. Tidak seperti keajaiban dunia yang sulit dipercayai. Keindahan zat Allah ta’ala, takkan ada kata yang menggambarkannya. Sudah sepantasnya, semua kita mendambakan karunia ini. 

Sebagai penutup kami sampaikan sebuah hadis dari Rasulullah SAW. 

Nabi SAW bersabda:

 “sungguh, selagi datang satu zaman dimana seseorang tidak pernah peduli pada harta yang diusahanya, adakah dari yang halal ataukah dari yang haram”

Zaman yang diberitakan oleh Nabi, mungkin saja zaman yang sedang kita jalani ini. Coba kita melihat kisah kehidupan para manusia sekarang, sungguh banyak tertanam luka-luka. Seseorang hanya peduli kepada orang yang ia kenal, tak lagi peduli kepada seseorang yang membutuhkan. Sedikit sekali rasa kasih sayang yang tumbuh di dalam hati manusia. 

Pernahkah kita bertanya, adakah aku menjadi seseorang yang diberitakan oleh Nabi?
sempatkah kita merenung, mengapa rasa kasih sayang telah hilang pada hatiku? 
jika aku merasa sendiri, maka bagaimana rasa sakitnya saat tak ada yang melihatnya. Tak ada yang menawarkan syahdu dan ketenangan.

mungkin, karna kita tak pernah memperhatikan bagaimana sejatinya bentuk hati kita saat ini. 
kita mengira hati ini selalu indah, bersinar terang, dan bercahaya. Padahal, hati telah lama menangis. Setiap tetes tangisnya itu, memunculkan satu titik hitam. Lama waktu berlalu, maka takkan lagi kita jumpai hati yang cerah, melainkan sebuah hati yang takkan tega dilihat bila seandainya bisa dilihat.
Maka marilah menjaga hati dan jiwa, dengan memelihara makanan kita. mudah-mudahan, makanan yang halal yang kita konsumsi menjadi awal mula kebersihan hati yang akan menumbuhkan rasa kasih sayang untuk semua orang. Untuk menjalin kepedulian yang tinggi demi terlihatnya senyum senyum pada orang-orang yang membutuhkan





Related Posts

Posting Komentar